Pages

Minggu, 06 Juni 2010

Etika Tiduk (bubuk)


Orang Muslim berkeyakinan bahwa tidur adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-firman-Nya berikut:

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qashash: 73)

“Dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat.” (An-Naba: 9)

Itu karena istirahat seseorang beberapa jam pada waktu malam setelah seharian bergerak itu membantu kesegaran badan, kelangsungan perkembangan dan aktifitasnya, agar dengan itu semua ia dapat menunaikan tugas yang diciptakan Allah Ta‘ala untuknya.
Mensyukuri nikmat-nikmat itu menghendaki orang Muslim menerapkan etika-etika berikut dalam tidurnya:

Etika Berpakaian

Orang Muslim meyakini bahwa berpakaian itu diperintahkan Allah Ta'ala dalam firman-firman-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya berikut ini:

Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-Araaf: 31).

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Al-A’raaf: 26).
“Dan Dia jadikan bagi kalian pakaian yang memelihara kalian dari panas, dan pakaian (baju besi) yang memelihara kalian dalam perangan.” (An-Nahl: 81).

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kalian guna memelihara dalam peperangan kalian, maka hendaklah kalian bersyukur.” (Al-Anbiya’: 80).

Rasulullah saw. memerintahkan berpakaian dalam sabdanya, “Makanlah kalian, minumlah kalian, berpakaianlah kalian, dan bersedekahlah kalian tanpa kikir dan tanpa sombong.” (Diriwayatkan Al Bukhari)

Selain itu, Rasulullah saw. menjelaskan apa saja yang boleh dijadikan pakaian, apa yang tidak boleh dijadikan pakaian, apa yang disunnahkan untuk dipakai, dan apa yang dimakruhkan untuk dipakai. Oleh karena itu, orang Muslim konsekwen dengan etika-etika berikut dalam berpakaian:

Etika Bepergian

Orang Muslim meyakini bahwa bepergian adalah salah satu kebutuhan hidupnya yang tidak terpisahkan darinya. Sebab, haji, umrah, perang, menuntut ilmu, berbisnis, dan melindungi saudara-saudara seakidahnya, itu semua kewajiban yang menghendaki perjalanan dan bepergian. Oleh karena itulah, Allah Ta‘ala memberi perhatian besar terhadap hukum hukum dan etika-etikanya. Orang Muslim harus mempelajari itu semua dan merealisirnya.
Hukum-hukum Bepergian
Di antara hukum-hukum bepergian ialah sebagai berikut:
  •  Musafir mengqashar shalat-shalat yang empat rakaat, kemudian ia shalat dua raka'at kecuali shalat Maghrib maka ia harus mengerjakannya tiga raka'at, ia mulai mengqashar shalat sejak ia meninggalkan daerahnya hingga kembali padanya, kecuali jika ia berniat menetap empat hari atau lebih di daerah tujuannya, atau ia singgah di dalamnya maka ia tidak boleh mengqashar shalat dan jika ia pulang ke daerahnya maka ia boleh kembali mengqashar shalat hingga ia tiba di daerahnya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:

Etika Memenuhi Undangan

Di antara etika memenuhi undangan ialah sebagal berikut:

1. Tamu yang diundang harus memenuhi undangan, dan tidak terlambat memenuhinya kecuali karena udzur, misalnya karena khawatir undangan tersebut merusak agama dan badannya, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

"Barangsiapa diundang, hendaklah ia memenuhinya." (Diriwayatkan Muslim).

"Jika aku diundang kepada jamuan kaki kambing, aku pasti memenuhinya. Jika aku dihadiahi lengan, aku pasti menerimanya."

2. Tidak membeda-bedakan antara undangan orang miskin, dan undangan orang kaya, karena tidak memenuhi undangan orang miskin itu merusak perasaannya, dan merupakan kesombongan. Padahal kesombongan itu tercela.
Tentang memenuhi undangan orang miskin, diriwayatkan bahwa Al-Hasan bin Ali ra. berjalan melewati orang orang miskin yang menebarkan remukan makanan di jalan ketika mereka sedang makan. Mereka berkata, Mari makan siang bersama kami, hai cucu Rasulullah saw. Al-Hasan bin Ali berkata, "Ya boleh, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong." Usai berkata seperti itu, Al-Hasan bin Ali turun dari keledainya dan makan bersama orang-orang miskin tersebut.

Etika Bertamu


Orang Muslim beriman kepada kewajiban memuliakan tamu, dan menghormatinya dengan penghormatan yang semestinya, karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah saw.,

"Barangsiapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (Muttafaq Alaih).

"Barangsiapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamu sesuai dengan jatah harinya." Para sahabat bertanya, "Berapa lama jatah harinya, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. bersabda, "Siang hari dan malam harinya. Bertamu itu selama tiga hari, dan selebihnya adalah sedekah." (Muttafaq Alaih).

Oleh karena itu, seorang Muslim menerapkan etika-etika tamu seperti berikut:
Mengundang Orang untuk Bertamu

Di antara etika mengundang orang untuk bertamu ialah sebagai berikut:

Pergilah

Kau yang dulu datang
mengetuk jendela hati
memaksa rasa….
terbuka kunci cinta

susah payah…
Ku biarkan kau masuk
mengisi,,,
tahta cinta suci

saat kau raja hatiku
beri warna hidupku
amalkan senyum tulus
bertasbih kalbu suci
waktu yang berjalan
buatmu lupa Akan kerajaan,,,
yang kau tahtai

tinggalkan singgasana suci
tinggalkan semua ketulusan hati

ku terlalu sulit terima
ku kunci pintu hati
tak kan ku buka lagi
karena hanya beri
sakit dihati

kini kau kembali
meminta tahta itu lagi
tapi ku tak perduli

pergi kau…
Jangan pernah kembali
tahta ini bukan milikmu lagi

kerajaan ini tElah terkunci
hanya yang tulus sejati
menjadi raja hatiku
lagi…….

Jerit Kalbu


Wahai alam….
Dengarkah kau jerit hatiku
jerit kalbu yang hanya tuhan tau


Ya Allah…
Jika ini jawaban
atas semua tanya hamba
kenapa begitu sakit tuk diterima

Jika dia bukan yang terbaik
hapuslah namanya dari pikirku
hapuslah angan itu dari kalbuku
buatlah hamba tak pernah kenalinya

Ya Allah….
hamba percaya engkau ada
berikan yang terbaik bagi hambamu
jika dia harus hilang
biarlah hilang tanpa kenangan
 
Powered by Blogger